Semua baik-baik saja hingga semenit lalu, saat percakapan di ponsel disudahi. Aku kesel. Pacaran udah lama. Aku hitung yang serius itu sejak 2007 lalu dan sekarang udah 2010. Tiga tahun. Itu waktu yang ngga sebentar bagi aku untuk menjalani sebuah hubungan.
Aku dengan pribadi yang ngga bisa diem, selalu ingin mencoba hal baru, penuh rasa ingin tahu, selalu bersemangat dan punya tingkat kepedulian yang tinggi ternyata terasa ngga sejalan dengan pribadi dia yang santai, adem ayem, ngga berpikiran dewasa, tidak cepat bertindak, membuat iklim hubungan jadi ga sejalan. Memang aku dengan segala kepribadian yang aku miliki menjadi terkesan ngga sabaran dan ambisius kalo disandingkan sama dia. Aku merasa dia yang bisa meredam aku saat stress saat menghadapi banyak tekanan dengan sikap adem ayem-nya. Dan aku juga berusaha menenangkannya saat dia juga sedang merasakan hal yang sama. Tapi kenapa dia tidak berusaha mengimbangi aku untuk berpikir secara dewasa juga???
Hidup itu penuh rintangan yang di mataku itu adalah tantangan. Masa sampai hal-hal yang sepele aja harus aku yang atur? Ingetin sholat (tapi sekarang udah mendingan, lebih seimbang), jaga kesehatan (emang aku emaknya??? Emaknya juga ga sepeduli itu, dia sendiri yang bilang), pikirin kariernya juga pendidikannya (padahal kan dia cowok, masa ngga malu sih aku yang dapet lebih dari dia?). Ini di luar masalah rejeki sudah ada yang atur, tapi masalah sebesar apa usaha yang udah dijalankan. Untuk lulus kuliah aja harus berantem dulu dan digertak dulu baru PECICILAN untuk selesein. Masalah kerja juga. Ngga ada gregetnya untuk bergerak. Lamban. Dan aku ngga suka. Terkesan ngga gentle.
Sebagai cewek, wajar donk aku ngrasa pengen punya cowok, pria, calon pendamping hidup, yang bisa membimbing aku, menjaga aku. Bukan sebaliknya, yang ‘gerakan’ hidupnya diatur olehku.
Dia pernah bilang “kamu emang cerewet, suka marah-marah. Tapi si sebenernya marah-marahnya kamu emang bener. Buat kebaikan aku juga”.
Nah! Masalahnya, dia pikir marah-marah itu ngga enek??? Kenapa si, harus tunggu aku marah-marah dulu untuk doing something yang memang baik untuk diri dan kehidupannya???! Itu sama artinya pria tak berprinsip!
Aku pengeeeen banget bilang ini sama dia. Tapi aku ngga tega. Pasti akan sangat menyakitkan. Tapi aku adil. Aku juga ngga ngilangin baiknya dia. Orangnya mau mencoba dan berusaha, mau mendengar, menjalankan, royal, setia. Tapi aku juga ingin dia menjadi dewasa. Kalo gini terus, aku juga yang capek. Walaupun ngga setiap jengkal langkahnya masuk jadi urusanku. Tapi kalo emang dia ngajak menjalani hubungan serius dan selalu mengajak ke arah hidup bersama, ngga kebayang kalo dijalani dengan kondisi seperti sekarang.
Salah seorang temenku bilang “berarti emang dia ngga peka. Ngga nyadar kalau kamu marah walaupun kamu dingin kalo kamu ngga ngomong langsung ke dia kalo emang kamu kesel sama dia. Jadi, sekarang tinggal kamunya yang mencoba untuk belajar cuek dan ngga usah terlalu peduli. Kadang cuek dan ngga peduli itu penting”.
Okay. Let see. Aku akan coba.
Untuk dingin, cuek, dan belajar tidak pedulikan dia dan hidupnya!
Hmmmm sepertinya itu pilihan tepat dan menenangkan. Agar hidup dan ritme kehidupanku menjadi lebih sejalan, seimbang.
Itu pasti. Karna hidup, terlalu Nylekamin untuk diabaikan,,,
Bandung:18.26
Selasa, 26 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar